Kematian Paman di Kediamannya.

kovr

“mungkin itu sebabnya hanya aku yang dibuat pantas berkelakar panjang lebar, karena sebentar lagi aku mati, haha.” aku mengingat lagi kalimat yang ia ucapkan saat aku berkunjung ke sana, kediaman paman. aku mengingatnya begitu detail. ujung bibirnya yang tak menunjukkan bahwa ia tengah menikmati masa tua, namun pikirnya yang luas mementahkan anggapanku. ia adalah apa yang ia pikirkan. dan kematiannya petang tadi, tak lama setelah ia mengoceh tentang struktur tanah yang tepat untuk kuburnya. begitu kata bibi, menceritakannya kepadaku.

namun ternyata ada yang ia sembunyikan dariku. tapi tidak dari bibi. kata bibi, ia tak hentinya menangis akibat serebrumnya sendiri. aku terheran ketika membaca epilog kisahnya. bahwa terlalu banyak ia melewatkan setiap kesempatannya berbahagia. ia merelakan tangis dan cemas menyemakkan seluruhnya. dan bangku dan rokok dan lara dan jam dinding yang melewati pukul tiga dini hari adalah hal yang biasa ia nikmati.

paman nyatanya adalah manusia yang pintar bersembunyi. manusia yang menjauh dari memanusiakan dirinya. manusia yang lupa di mana batas miliknya. manusia yang terus memercayai alai-belai pikirnya. manusia yang menahan lara meski ia tahu ia takkan pernah mampu berbuat seperti itu. manusia yang di balik itu semua, ia berusaha memandang secara deduktif. seperti setiap doa yang dipanjatkan oleh pak tua kepada Tuhannya bahwa ia mendesak kematian yang secepatnya. seperti hantu yang terus saja mencoba merasukimu tanpa tahu bahwa seisimu adalah kosong yang sesak. sesak akan pikiran, kecemasan, ketakutan, penyesalan, perasaan bersalah, menetap di sana tanpa tahu aturan waktu, melampaui kemampuanmu dalam bertahan.

paman mati. kepada siapa lagi aku berkeluh dan bertanya dan berbagi. karena aku ingin sekali mendapatkan jawaban. tentang bolehkah aku memanjatkan doa yang sama seperti pak tua.

Menakar, Menduga, dan Memetakannya.

wa

bacalah secara perlahan. tanpa tergesa. tanpa suara-suara yang menghancurkan irama yang tersusun sedemikian rupa. sejak beberapa waktu, hingga petang lalu.

kau tak akan pernah menemukan titik henti, tanpa mencukupkan diri. terima kasih telah berkenan hadir, yang menurutku tak mungkin tercapai namun akhirnya kugapai.

Menakar, Menduga.

f

dan setiap kesedihan membawaku pergi menuju titik terjauh dari ruang tenang yang beberapa di antara kita mesti membayarnya. seperti kali ini, yang menarikku hingga ke selatan. dan hujan sesekali menampakkan diri, selayaknya bunga matahari yang membuka diri untuk dinikmati sesukanya oleh sang lebah dan kolega. herannya, tubuhku tak tersentuh, seakan ia jatuh sepersekian milimeter darinya. meski sesekali juga kuberhentikan naluri dan menepi. sepandai-pandainya otak menipu, aku sadar, aku bersama kematian yang terus mengintaiku.

aku mengingat lagi sebuah teori dalam buku, bahwa tak ada menceritakan dalam setiap mengikhlaskan. ia butuh menyendirikan keberadaan, menjadi yang terasing di antara sekeliling. diam, diam, hening, lalu hilang. adakah yang kau pahami selain dari apa yang kau yakini? begitu kataku pada nalarku. seolah berdiskusi dengan manusia, nyatanya ia tak berlawan bicara.

manusia adalah kesendirian yang tak sempurna. maka bagaimanapun juga, ia mempersilakan selainnya.

Jalan, Semarang.

img_6579

tertidur. kuatur hidup sedemikian rupa hingga melantur. satu terlepas, tiga mematut paras. aku ingin pergi menuju ladang luas penuh ilalang gatal yang menyerangku selepas fajar tanpa terlebih dahulu mengenaliku. benalu, menjadi siang dan buku, menakar nalar dan laku. menghampiri setiap nama baru yang wangi menyaru. setiap musik yang kudengar di sela waktu, setiap isu yang hangat dan tak tentu.

aku adalah sebentuk kesedihan yang sesekali menggerutu. aku adalah sebentuk kesedihan yang tak pernah sudi dikasihani. aku adalah sebentuk kesedihan yang mencoba melepaskan, dan kembali menyiarkan keyakinan, untuk meyakinkan diri bahwa akan ada keadilan bagi mereka yang meyakini.

Selatan.

IMG_4982

andai semua empati mengalir begitu saja selepas potret dan aksara dibagikan kepada mereka yang bahkan antusiasnya saja tak seperti ucapnya. kita menjadi begitu terbuka berkat beberapa andil mereka, mengatasnamakan berbagi adalah merasa, satu adalah lainnya. mengapa aku menulis jika hanya untuk mengabur? menulis “anjing” bukan sebagai umpatan, melainkan naluri yang tak mampu hilang menuju laut selatan. karena mereka tak butuh itu. sementara aku sebaliknya, untuk memahami apa yang benar-benar ada. untuk hidup yang bukanlah pengulangan dari apa yang telah dipelajari.

untuk apa bercerita jika hanya menguras pena?


Rupadhatu – Hutan Hujan Tropis

Zat Kimia – Dalam Diam

Stars and Rabbit – Man Upon The Hill

Auroracoustic – The Silence That Calls You

Muktito Adhitya – Perspektif

Kediaman Paman: 05.

IMG_5007

“masih mengingat kabar duka tujuh tahun yang lalu?”. satu kalimat tanya meluncur secara tiba-tiba, disusul cangkir teh yang disergap oleh tangan kanan paman, yang kuyakin betul masih panas terasa. “aku ingat tulisanmu, menyoal alasan-alasan kau masih tahan hidup sebagai bukan apa-apa,” lanjut paman. ingatan dengan cepat bergerak menuju arsip lama, menerobos menembus benteng memoar menemui kata perkata. kisah itu pernah tercatat dalam media tulis, menumpuk di meja kerja yang dipenuhi ceceran warna biru, hitam, pena dan cita. aku menunggu kalimat berikutnya yang keluar dari mulut paman, meski tanyanya belum gentas.

“mungkin itu sebabnya hanya aku yang dibuat pantas berkelakar panjang lebar, karena sebentar lagi aku mati, haha,” lagi-lagi kalimat yang lugas dan tak terduga. aku diam. dalam hati, aku jawab, ya, namun bukan berarti aku berbicara hanya dengan mereka yang segera menemui ajal. paman tahu betul setiap detail yang bahkan aku sendiri tak menyadari. aku senang menyimpan cerita, meleburkannya pada sebuah laman kosong yang aku gurat dengan kata-kata yang mengabur, tak menyerupai sesungguhnya. lantas suatu waktu kuterangkan kepada mereka yang sangat menghendaki makna di dalamnya. dan mungkin, kebiasaan ini memang berlangsung sejak itu, sejak tujuh tahun yang lalu.

dua kalimat itu belum mendapat balasan. aku sibuk menenangkan raut wajah, mengatur kerut agar tak sampai bilur. aku tersudut. lalu menyulut api hendak membakar tembakau. belum habis sepuluh menit terlalui, pikiranku sudah mampu dihabisi.