Elak.

img_5047

berlaku yang tak sepenuhnya kau tahu. mengerang kesakitan. pagi hari dengan tak menyempatkan diri berkontemplasi. membenci cuaca hari ini dengan mengutuk saturasi.

menulis adalah hal yang kupelajari setelah bicara dan membaca. dan ia menjadi yang paling kupercaya dan bebas berkelana. dan melangkah sejauh ini, selama ini, seperti upaya membelot dari kesepakatan tak tertulis antara aku dan bapakku. suara sumbang bukan hanya dari mereka yang mengaku mengenalku, namun juga mereka yang namanya tercantum dalam kartu. siapa yang tahu pasti jalan yang dibukakan oleh Tuhanmu?

mengatur posisi sedemikian rupa tanpa berancang segalanya, jauh sebelumnya. sementara memoar melupa. aku butuh kain hangat yang tebal agar tubuhku becus berdiskusi. nanar bila memaksa terus seorang diri. terlampau sunyi.

Advertisements

Saksama (II).

img_7992

kalau kau pikir menulis hanya akan menjadikanmu terlihat baik di depan mereka selainmu, mungkin ada yang salah. menulis membuatmu mampu berkomunikasi dengan diri selainmu yang tinggal di dalammu. terkesan mencekam, namun itu yang selama ini aku rasa. itu membantumu memahami apa maumu yang tertahan, ataupun sengaja kau tahan, di dalam dada. melalui tulisan yang kubuat, aku menjadi paham apa mauku. apa pikirku. apa keluhku. apa dan siapa aku.

namun ada hal yang terbebang saat menulis. emosi yang masih saja terkurung dalam lembar putih maupun laman kosong. maka kubuatkan nada sederhana, hanya untuk melagukannya, dan membuatku benar-benar tahu apa yang menggangguku. seperti pada kata “saksama”, yang kulepaskan dalam suara dan menangis sejadi-jadinya, yang takkan pernah kentara bila hanya berupa aksara.

silakan berprasangka, karena aku saja belum paham apa yang benar-benar hendak aku maksudkan, meski secara tegas akulah si pengutara.

Introduksi: 02.

pena

segan aku kepada kerabatku yang satu ini. sudah lama aku tak pepatkan waktu secara intensif bersama pena, terlebih setelah tangan yang biasa kugunakan untuk menulis mengalami pergeseran tulang, mengikuti tangan selainnya yang terlebih dahulu mengalaminya. semakin lengkap dengan segala tuntutan yang menyertaiku untuk memusatkan jeriji pada huruf dan angka dan simbol pada tuts yang terpusat unit dan terpecah fraksi. kau tahu? aku merindu, seperti masakan ibu yang tak pernah dikunyah seisi penghuni rumah. seperti pagi yang rasanya sama saja layaknya malam tadi. buta, tak terkendali.

aku membutuhkanmu, untuk mencatatkan beberapa laku seusai temu. anjing kecil yang membuntutiku selepas aku melewati pagar besi berwarna hitam, atau dua orang tetangga berparas tua yang masing-masingnya berubah raut saat bertatap rupa tak seperti seharusnya. sesempat waktu, kuajak lagi kau menuju petang yang kita suka, bersama buku catatan yang menghantarkan kita pada perasaan melupa dan melangut sesukanya.


dengannya, kubagikan suara berjudul Buka milik para tetua yang diambil dari album Elora.

Introduksi: 01.

serebrum

biar kuperkenalkan kepadamu. Serebrum, kerabatku. ia ditemukan pada jalur yang rutin dilewati oleh sebarisan anak kecil berseragam putih-merah, merokok, menikmati pagi sambil berjalan menghadap guru yang ia benci. dalam lajur beraspal hitam, jejak kaki menghentak menunjukkan kehadiran seorang yang ramah, dan tak malu untuk ditertawakan. masih kuat dalam ingatan, sebuah pertemuan di kedai kecil dengannya, diselingi obrolan singkat membahas apa saja yang tengah ia rencanakan dalam menempuh dunia yang selalu penuh dengan persaingan. begini, begitu, lalu ini, dan itu. ia berkawan dengan sesiapa saja yang mampu mengaras terminasi.

hari ini, entah berapa tahun setelah serdadu lata menambus batang rokoknya, ia tak menunjukkan gelagat macam-macam, seakan tak memiliki hasrat, memilih diam. apa yang tengah ia rencanakan? mungkinkah ia tengah merencana dengan tak mempersilakan sesiapa mengetahui urutan langkahnya? sefasis itukah inti memengaruhi selira? ia tak ubahnya sebuah benda mati yang kaku dan tenggelam bilamana ditaruh di atas permukaan air tenang.


dengannya, kubagikan suara berjudul Rauta milik sekelompok pemuda dari Swedia.

Kematian Paman di Kediamannya.

kovr

“mungkin itu sebabnya hanya aku yang dibuat pantas berkelakar panjang lebar, karena sebentar lagi aku mati, haha.” aku mengingat lagi kalimat yang ia ucapkan saat aku berkunjung ke sana, kediaman paman. aku mengingatnya begitu detail. ujung bibirnya yang tak menunjukkan bahwa ia tengah menikmati masa tua, namun pikirnya yang luas mementahkan anggapanku. ia adalah apa yang ia pikirkan. dan kematiannya petang tadi, tak lama setelah ia mengoceh tentang struktur tanah yang tepat untuk kuburnya. begitu kata bibi, menceritakannya kepadaku.

namun ternyata ada yang ia sembunyikan dariku. tapi tidak dari bibi. kata bibi, ia tak hentinya menangis akibat serebrumnya sendiri. aku terheran ketika membaca epilog kisahnya. bahwa terlalu banyak ia melewatkan setiap kesempatannya berbahagia. ia merelakan tangis dan cemas menyemakkan seluruhnya. dan bangku dan rokok dan lara dan jam dinding yang melewati pukul tiga dini hari adalah hal yang biasa ia nikmati.

paman nyatanya adalah manusia yang pintar bersembunyi. manusia yang menjauh dari memanusiakan dirinya. manusia yang lupa di mana batas miliknya. manusia yang terus memercayai alai-belai pikirnya. manusia yang menahan lara meski ia tahu ia takkan pernah mampu berbuat seperti itu. manusia yang di balik itu semua, ia berusaha memandang secara deduktif. seperti setiap doa yang dipanjatkan oleh pak tua kepada Tuhannya bahwa ia mendesak kematian yang secepatnya. seperti hantu yang terus saja mencoba merasukimu tanpa tahu bahwa seisimu adalah kosong yang sesak. sesak akan pikiran, kecemasan, ketakutan, penyesalan, perasaan bersalah, menetap di sana tanpa tahu aturan waktu, melampaui kemampuanmu dalam bertahan.

paman mati. kepada siapa lagi aku berkeluh dan bertanya dan berbagi. karena aku ingin sekali mendapatkan jawaban. tentang bolehkah aku memanjatkan doa yang sama seperti pak tua.

Menakar, Menduga, dan Memetakannya.

wa

bacalah secara perlahan. tanpa tergesa. tanpa suara-suara yang menghancurkan irama yang tersusun sedemikian rupa. sejak beberapa waktu, hingga petang lalu.

kau tak akan pernah menemukan titik henti, tanpa mencukupkan diri. terima kasih telah berkenan hadir, yang menurutku tak mungkin tercapai namun akhirnya kugapai.

Menakar, Menduga.

f

dan setiap kesedihan membawaku pergi menuju titik terjauh dari ruang tenang yang beberapa di antara kita mesti membayarnya. seperti kali ini, yang menarikku hingga ke selatan. dan hujan sesekali menampakkan diri, selayaknya bunga matahari yang membuka diri untuk dinikmati sesukanya oleh sang lebah dan kolega. herannya, tubuhku tak tersentuh, seakan ia jatuh sepersekian milimeter darinya. meski sesekali juga kuberhentikan naluri dan menepi. sepandai-pandainya otak menipu, aku sadar, aku bersama kematian yang terus mengintaiku.

aku mengingat lagi sebuah teori dalam buku, bahwa tak ada menceritakan dalam setiap mengikhlaskan. ia butuh menyendirikan keberadaan, menjadi yang terasing di antara sekeliling. diam, diam, hening, lalu hilang. adakah yang kau pahami selain dari apa yang kau yakini? begitu kataku pada nalarku. seolah berdiskusi dengan manusia, nyatanya ia tak berlawan bicara.

manusia adalah kesendirian yang tak sempurna. maka bagaimanapun juga, ia mempersilakan selainnya.