Category Archives: Substansial

Substansial: 05.

efek

lihat sekelilingmu, yang membuat sekujurmu ringkih. segerombol individu yang siap menyingkirkanmu sambil sesekali terkikih. hingga meyakinkanmu bahwa substansi bukan lagi sebuah esensi. sudah saatnya tubuhmu disiram anestesi. bukankah menjadi sederhana adalah satu pencapaian paling penting dalam pendakian ini? lalu mengapa kita masih saja menjadi peretas dalam upaya menemukan identitas? merias, merasa tak puas. melapis tubuh dalam medium distorsi.

Advertisements

Substansial: 04.

pemutar vinyl

seburuk apa pun hari, seterik apa matahari, daftar putar itu akan terus berseru, menderu. pengantar yang halus menuju secercah wujud tak berdimensi yang saru. menahan paksa, memaksa tertahan. berkeping-keping terputar, yang setiap nomornya mampu siarkan refleksi. menyebar menuju setiap sudut ruang persegi, dengan jendela terbuka, kursi, televisi yang dimatikan, serta baris percakapan mengenai diferensiasi. satu dan lainnya tak datang dengan penawaran yang pasti. maka perlulah menyusun kolase agar terbungkus rapi.

Substansial: 03.

G

ah, kepala. keras sekali kau memperlakukannya. menggerutu di sepanjang petang yang menunggumu menguak semua ragu. kau teguh ia berwujud intuisi. tidakkah kau perhatikan kesatnya? imbas dari laku skeptis, menjalar merupa apatis. tidakkah kau simak? aksenmu tinggalkan gurat di sekelilingnya. fondasi kokoh, kau seret menuju roboh. setiap hela napas yang kau sempatkan, satu-tiga kali mampu hindarkan reputnya. bila kau izinkan satu permohonan melewati tempurung itu, tolong, kendurkan kerasnya. kau adalah yang paling mampu tentukan kerangka.

Substansial: 02.

ko

bagi yang terelakkan di sudut sebuah peron, dini hari tanpa cuplikan mimpi. menentang kantuk, berantuk dengan lambung yang tak sempat bersentuhan dengan hasil dari si penanak. semua begitu parsial. tak lama kemudian, tampak raut wajah yang tak berarah. segeralah ia memantik. timbul pijar, cerutu terbakar. tengadah ia, dengan pikiran dipenuhi racauan. paradoks. untuk apa memercayai anotasi bila keyakinan telah memenuhi. lalu ia sadar, tanpa pemantik, ia akan mati dihabisi cela dalam lembar interpretasi. kereta tiba, cerutu dimatikannya.

Substansial: 01.

b

mata terbuka, mengabur tak terlihat apa. kelu, sengap di dalamnya. aku, dan mereka yang hidup sebagai aku dalam tiap-tiap individu, tak selalu mampu mengisahkan kepada sesiapa. ada ragu yang selalu meninggalkan tanya; mampukah mereka berada tepat pada perspektif yang sama?

lalu kian mengabur, tak terlihat ada. menyimpannya pada sebuah benda. merinci setiap detail pada piringan kecil yang ditawarkannya rahasia. memang, terkadang yang kita butuhkan adalah melepaskan. hingga lepas, lalu tenang. seperti bapak yang segera mengusap keringat begitu jenjang terakhir telah ditempuh anaknya. namun terkadang pula, sesama belum tentu merasa yang sama. dan yang mati, tak berarti hanya sebagai kotak bertutup bernama peti.