Category Archives: Kediaman Paman

Kediaman Paman: 07.

tahun telah menyematkan diri di paruh ketiga dalam pembagiannya. sebuah konklusi dengan serangkaian nada dan cuaca yang memekakkan telinga, hingga memerah meminta waktu jeda. aku adalah penulis wara, penata laksana. mencatat beberapa laku yang melintas mewangi. selepas kepergian paman, tak banyak tempat yang aku singgahi. semua begitu muram, sedikit memberiku pencahayaan.

tempat itu selalu mampu melelapkanku untuk berdiam diri, mempersilakan hening menggerayangi seisiku. tempo hari, secara sadar, aku kemudikan kendaraanku menuju kediaman paman. namun rasa cemas menggagalkan upaya itu. membayangkan celoteh bibi yang pasti tiada henti, sepeninggal paman, tentu saja dengan agunan akan ada waktu yang memaksa haru. kau tahu, Kartika sudah lama menetap di ibu kota, sementara Mulyadi menjanjikan kelulusannya tahun depan. sebuah realitas, menelan tenggat setahun menghabiskan omong kosong semalaman, sendirian. nahas.

sebetulnya ada sebuah tempat yang mampu memenuhiku dalam menuliskan catatan. besok aku ceritakan sehabis menyimak kawanku berpanjang kalam di selasar swasta.

Advertisements

Kematian Paman di Kediamannya.

kovr

“mungkin itu sebabnya hanya aku yang dibuat pantas berkelakar panjang lebar, karena sebentar lagi aku mati, haha.” aku mengingat lagi kalimat yang ia ucapkan saat aku berkunjung ke sana, kediaman paman. aku mengingatnya begitu detail. ujung bibirnya yang tak menunjukkan bahwa ia tengah menikmati masa tua, namun pikirnya yang luas mementahkan anggapanku. ia adalah apa yang ia pikirkan. dan kematiannya petang tadi, tak lama setelah ia mengoceh tentang struktur tanah yang tepat untuk kuburnya. begitu kata bibi, menceritakannya kepadaku.

namun ternyata ada yang ia sembunyikan dariku. tapi tidak dari bibi. kata bibi, ia tak hentinya menangis akibat serebrumnya sendiri. aku terheran ketika membaca epilog kisahnya. bahwa terlalu banyak ia melewatkan setiap kesempatannya berbahagia. ia merelakan tangis dan cemas menyemakkan seluruhnya. dan bangku dan rokok dan lara dan jam dinding yang melewati pukul tiga dini hari adalah hal yang biasa ia nikmati.

paman nyatanya adalah manusia yang pintar bersembunyi. manusia yang menjauh dari memanusiakan dirinya. manusia yang lupa di mana batas miliknya. manusia yang terus memercayai alai-belai pikirnya. manusia yang menahan lara meski ia tahu ia takkan pernah mampu berbuat seperti itu. manusia yang di balik itu semua, ia berusaha memandang secara deduktif. seperti setiap doa yang dipanjatkan oleh pak tua kepada Tuhannya bahwa ia mendesak kematian yang secepatnya. seperti hantu yang terus saja mencoba merasukimu tanpa tahu bahwa seisimu adalah kosong yang sesak. sesak akan pikiran, kecemasan, ketakutan, penyesalan, perasaan bersalah, menetap di sana tanpa tahu aturan waktu, melampaui kemampuanmu dalam bertahan.

paman mati. kepada siapa lagi aku berkeluh dan bertanya dan berbagi. karena aku ingin sekali mendapatkan jawaban. tentang bolehkah aku memanjatkan doa yang sama seperti pak tua.

Kediaman Paman: 05.

IMG_5007

“masih mengingat kabar duka tujuh tahun yang lalu?” satu kalimat tanya meluncur secara tiba-tiba, disusul cangkir teh yang disergap oleh tangan kanan paman, yang kuyakin betul masih panas terasa. “aku ingat tulisanmu, menyoal alasan-alasan kau masih tahan hidup sebagai bukan apa-apa,” lanjut paman. ingatan dengan cepat bergerak menuju arsip lama, menerobos menembus benteng memoar menemui kata perkata. kisah itu pernah tercatat dalam media tulis, menumpuk di meja kerja yang dipenuhi ceceran warna biru, hitam, pena dan cita. aku menunggu kalimat berikutnya yang keluar dari mulut paman, meski tanyanya belum gentas.

“mungkin itu sebabnya hanya aku yang dibuat pantas berkelakar panjang lebar, karena sebentar lagi aku mati, haha,” lagi-lagi kalimat yang lugas dan tak terduga. aku diam. dalam hati, aku jawab, ya, namun bukan berarti aku berbicara hanya dengan mereka yang segera menemui ajal. paman tahu betul setiap detail yang bahkan aku sendiri tak menyadari. aku senang menyimpan cerita, meleburkannya pada sebuah laman kosong yang aku gurat dengan kata-kata yang mengabur, tak menyerupai sesungguhnya. lantas satu waktu kuterangkan kepada mereka yang sangat menghendaki makna di dalamnya. dan mungkin, kebiasaan ini memang berlangsung sejak itu, sejak tujuh tahun yang lalu.

dua kalimat itu belum mendapat balasan. aku sibuk menenangkan raut wajah, mengatur kerut agar tak sampai bilur. aku tersudut. lalu menyulut api hendak membakar tembakau. belum habis sepuluh menit terlalui, pikiranku sudah mampu dihabisi.

Kediaman Paman: 04.

IMG_6981

hari menggelap, dan sayup kumandang adzan terdengar di kejauhan. lampu penerang jalan tampaknya sudah dinyalakan aparat desa setempat. kegelapan mengerubungi langit, seusainya hujan yang kali ini singgah sekejap. kami segerakan bersuci, bersiap menghadap Pangeran. tampak bibi sudah dibasahi air wudhu, dan menyiapkan sajadah untuk kami berempat. ya, Mulyadi kebetulan tak keluar rumah petang ini. aku seketika merindu. ingatan membuka arsip lama, menuju satu waktu di mana aku dan keluargaku masih rutin ibadah berjamaah. aku biasanya paling akhir menyucikan diri, sehingga tak mengherankan bila gerutu bapak menggema seisi rumah. aku benar-benar merindukan momen itu.

oh ya, menyoal penyebutan “Pangeran” yang kutujukan kepada-Nya, karena bapak biasa mengatakannya pula. aku ingat, bapak sering mengatakannya setiap selepas shalat shubuh, di mana waktu tersebut sering kali kami pakai untuk mengaji bersama. ia membacakan satu ayat, lalu diikuti pembacaan dariku. mungkin kalau tak ada jadwal dinas ke luar kota, bapak pasti ikut bersamaku ke sini, kediaman paman. sambil menyesatkan tubuh menuju belukar di sekeliling rumah, karena banyak ditanami tetumbuhan liar yang dapat dikonsumsi.

selepasnya, dua cangkir teh tawar panas telah tersaji di sebuah meja yang diapit dua buah kursi kayu. bibi menangkap tanda bahwa percakapan antara aku dengan paman masih akan berlanjut. tak lupa disediakannya asbak berwarna cokelat, yang dalam artian lain ia tak mengizinkan kami membuang ampas rokok sembarangan. pukul enam tiga puluh malam, kubiarkan diri menetap di tempat yang bukan rumahku sendiri. namun dengan suasana yang hampir sama.

Kediaman Paman: 03.

IMG_5525

biar kuceritakan sedikit tentang Mulyadi dan Kartika, sampai-sampai aku tak kerasan bila berlama-lama bersama mereka. Mulyadi sebaya denganku, rambutnya ikal, alis tebal, warna kulit gelap, khasnya memakai celana sobek, yang ia anggap sebagai wujud pembangkangan terhadap sistem yang mengekang, entah apa itu. ia mengambil studi seni rupa murni di perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. sudah beberapa hari ini ia menikmati libur kuliah di rumah orang tuanya. kaitan keberagaman mode yang tak biasa dengan fakultas seni kian hari kian melekat dan klise. sebuah stereotip. dan lagi, ia selalu mempersenjatai dirinya dengan bahasa kotor dalam balutan guyonan. bicara dengannya sama saja melatih ucap dengan kata-kata yang tak diperkenankan ada dalam sebuah makan malam bersama bapak.

Kartika sebenarnya merupakan rekan paling tepat dalam membicarakan hal-hal detail. bagaimana kami memandang fenomena terkini mengenai sumbangan minimum yang layak diberikan kepada pengemis jalanan, dengan antusiasnya. sayang, kini ia tergabung dalam partai politik, hal yang tak banyak kutaruhkan atensi. ia kadung mendalami semua omong kosong itu. terkadang namanya ditemukan oleh paman dalam kolom ulasan pers di surat kabar.

rasa-rasanya tak perlulah aku ceritakan tentang bibi. ia sama halnya dengan ibu-ibu yang sedang menjelang usia senja, recok dan banyak cakap yang tak jauh dari nasihat. bila memang harus berpapasan dan terpaksa berinteraksi dengan ketiga pribadi tersebut, aku terima dengan ikhlas, asalkan setelahnya aku miliki kesempatan berbincang dengan paman.

Kediaman Paman: 02.

IMG_4942

awan kelabu tengah menghampiri kami di depan sana. bergerak cepat, seakan tak sisakan waktu untuk sekadar meminta kepada-Nya agar hujan urung hadir sore ini. paman masih saja tenang. simpulan senyumnya menyiratkan bahwa ia siap dibasahinya. mungkin ia pasrah akan cuaca tak menentu belakangan ini, hingga ia rela mengganti pakaiannya dua kali dalam satu hari. dua menit berlalu, awan kelabu telah sepenuhnya berada di atas kami, tinggal menunggu waktu saja rasanya tetes demi tetes menghujam ujung kepala. aku tak kuasa menahan tanya kepadanya. “paman, kenapa kita tak segera menuju sebelah sana. bukankah bulan lalu paman membuat tempat itu untuk berteduh?” kataku mengharap balas. “sebentar, kita masih punya waktu untuk menikmati gelapnya,” jawabnya tanpa hiraukan gelisah.

“mari,” singkatnya, sembari berjalan meninggalkan tempat yang sedari tadi kami tinggali. betul saja, tak lama kemudian hujan turun deras. beruntung stok tembakau masih aman untuk mengusir dingin. “kau tahu, semalam ada yang berkunjung kemari. ia dingin, kaku, tak berkepala,” kisahnya. aku terkelu, bisa-bisanya ia berlaku seperti itu di tengah kondisi saat ini. kubakar sebatang tembakau terburu, berharap semua berlalu dengan asapnya. seharusnya aku tak terkejut, toh, letak rumahnya saja seperti ini. kegemaran mereka yang tak terasa ada. “kau punya lagu apa di pemutarmu itu?” usahanya memecah ketegangan. tanpa kujawab, langsung kuputar Nasadira – Selamat Tinggal. ya, sebuah musikalisasi puisi karya Chairil Anwar. suara yang mampu membuat tubuhku terhempas tanpa sandaran. paman tersenyum kecil lagi. mungkin ia mengenali setiap baitnya, pernah ia temukan dalam kertas usang di lemari buku miliknya.

bagiku, paman layaknya seorang sahabat. aku bisa kapan saja menemuinya tanpa memikirkan kesibukan yang tengah ia kerjakan. paman pernah berkata, kenapa tak habiskan waktuku dengan kedua anaknya saja. aku yakin, ia mengetahui alasannya, hanya ingin memastikan dan mencoba mengubah keadaan melalui perbincangan hangat khasnya.

Kediaman Paman: 01.

IMG_4943

baru-baru ini aku sempatkan berkunjung ke kediaman paman. masih hijau dan berada dalam kepungan satwa liar. tetesan air hujan yang tersisa di talang air masih samar terdengar, tertutup alunan musik country yang keluar dari alat pemutar usang di salah satu sudut ruangan. aku mengajukan izin untuk direstui menapaki atap rumahnya. aku terkesima akan luasnya. bahkan lebih luas dari lahan parkir yang disediakan oleh pengelola kafe di bilangan dago atas. seperti yang kau tahu, mereka masih memanfaatkan trotoar untuk kepentingannya. pemerintah hanya menggertak, satu-dua kali menindak, namun laporan keluhan masyarakat mengalir tak henti. lama-lama aku bosan menyimaknya di surat kabar.

paman menyusulku, mengagetkanku dengan memulai percakapan, menceritakan apa saja yang mengganggu tenangnya. aku khusyuk mendengarkan, dengan sesekali menghisap batang kretek yang belum padam. ia bercerita, matanya terbelakak antusias namun tetap dengan pembawaan yang tenang, seraya mengenang beberapa momen indah yang pernah dilaluinya semasa seusiaku. “di masaku, argumen-argumen itu diangkat dalam sebuah diskusi. tak seperti saat ini, diskusi dianggap sebagai pelemahan ideologi, alih-alih penguatan yang diyakini masing-masing. kini, jarang kulihat perdebatan itu di warung kopi,” katanya. meski bersemangat, aku menangkap pandangannya yang kosong menuju satu arah. jelas saja ia sedang membangkitkan memori lama.

ia tak henti-hentinya berkelakar. kupikir, mulutnya pasti asam. lantas kutawarkan tembakau di saku. “kok, kretek, sih?” tanyanya terheran. aku sungkan menjawab, karena alasanku yang hingga kini mengonsumsinya karena kakek juga melakukan hal itu. aku takut kakek terkena imbas dari hal yang melatarbelakanginya.