Category Archives: Merekam Kamar

Saksama (II).

img_7992

kalau kau pikir menulis hanya akan menjadikanmu terlihat baik di depan mereka selainmu, mungkin ada yang salah. menulis membuatmu mampu berkomunikasi dengan diri selainmu yang tinggal di dalammu. terkesan mencekam, namun itu yang selama ini aku rasa. itu membantumu memahami apa maumu yang tertahan, ataupun sengaja kau tahan, di dalam dada. melalui tulisan yang kubuat, aku menjadi paham apa mauku. apa pikirku. apa keluhku. apa dan siapa aku.

namun ada hal yang terbebang saat menulis. emosi yang masih saja terkurung dalam lembar putih maupun laman kosong. maka kubuatkan nada sederhana, hanya untuk melagukannya, dan membuatku benar-benar tahu apa yang menggangguku. seperti pada kata “saksama”, yang kulepaskan dalam suara dan menangis sejadi-jadinya, yang takkan pernah kentara bila hanya berupa aksara.

silakan berprasangka, karena aku saja belum paham apa yang benar-benar hendak aku maksudkan, meski secara tegas akulah si pengutara.

Advertisements

Hujan (I-III), (IV).

photo(1)

malam hari, di sudut ruang yang temaram, membayangkan sebuah pertemuan yang berlangsung pada suatu petang di hutan kota. tentang seorang yang tampak tenang, namun dipenuhi pikiran yang entah kepada siapa ia yakin mengutarakan. ya, petang itu hujan datang perlahan. salah satu yang dianggapnya teman. pemantik untuk menyegerakan tenang.

adalah representasi dari simpulan dialog dengan Ryani Puspa Kirana. banyak hal yang membuat bebunyian ini tak terasa biasa, antara lain beberapa apresiasi dari mereka yang tak kuketahui. secara signifikan, keempat bait hujan ini mengubah sudut pandang.

Lalu.

abd

ada rasa haru ketika langkah telah mendekati yang dituju. bukan, bukan kepuasan akan apa yang telah dilakukan. namun sebuah tanya yang bergumul di kepala, menetap di dalam sana. lalu apa setelah ini semua?

periode kala usia tak lagi pantas dikatakan muda, memaksaku untuk menerima, bahwa sudah seharusnya aku bersiap merapikan tatanan rambut dan menebalkan suara. namun layaknya titik perhentian, tanpa sesiapa dalam keraguan yang sama, berjalan dengan bekal pelajaran dalam perjalanan selama ini adalah penerang di kegelapan. lalu kita berpura-pura menjadi dewasa, dengan ingatan akan masa-masa menyenangkan di kepala.

Kuda-kuda.

IMG_1882

menginjak usia yang tak lagi muda, pekerjaan tentu menjadi fokus utama. mencari mesiu untuk kemudian hari meledakkannya bersama canda hangat dan gelak tawa keluarga. sepagi mungkin, agar ledakan itu sesegera mungkin terealisasi. kadang, kita adalah seekor kuda. terengah-engah, tapi tak sudi selipkan waktu untuk lengah. bayangan akan teh manis hangat yang dihidangkan di halaman belakang rumah serta percakapan menenangkan, yang tak lama lagi menjadi nyata.

merepresentasikan sebuah tulisan milik Pipit Andayani tentang para pekerja keras yang diibaratkan sekumpulan kuda. meskipun secara harfiah “kuda-kuda” berarti sebuah sikap siaga.

Sebuah, Siang Matahari.

IMG_2113

rentang waktu 2011-2013, banyak potongan kata yang terekam menjadi sebuah lagu ringan. Canada, Failure Corrections, memunculkan nada-nada sendu dari tulisan keputusasaan. meski Joko-Anto menunjukkan bahwa lagu ringan itu tak melulu tentang perasaan.

berada di lingkungan dengan minat menulis, membuatku banyak membaca. tulisan-tulisan yang mengisahkan suatu hal, menyiratkan harapan. dua buah tulisan dari seorang teman, Winona Maheswari Ramadhan, berjudul Sebuah dan Siang Matahari, secara signifikan mengubah nada dan kosakata yang biasa digunakan. dua buah tulisan yang dijadikan dua buah lagu ringan, yang menjadikan cara pandang lebih terbuka.