Category Archives: Rekam

Saksama (II).

img_7992

kalau kau pikir menulis hanya akan menjadikanmu terlihat baik di depan mereka selainmu, mungkin ada yang salah. menulis membuatmu mampu berkomunikasi dengan diri selainmu yang tinggal di dalammu. terkesan mencekam, namun itu yang selama ini aku rasa. itu membantumu memahami apa maumu yang tertahan, ataupun sengaja kau tahan, di dalam dada. melalui tulisan yang kubuat, aku menjadi paham apa mauku. apa pikirku. apa keluhku. apa dan siapa aku.

namun ada hal yang terbebang saat menulis. emosi yang masih saja terkurung dalam lembar putih maupun laman kosong. maka kubuatkan nada sederhana, hanya untuk melagukannya, dan membuatku benar-benar tahu apa yang menggangguku. seperti pada kata “saksama”, yang kulepaskan dalam suara dan menangis sejadi-jadinya, yang takkan pernah kentara bila hanya berupa aksara.

silakan berprasangka, karena aku saja belum paham apa yang benar-benar hendak aku maksudkan, meski secara tegas akulah si pengutara.

Advertisements

Am.

IMG_9164 (2)

bagaikan deretan minimarket yang mampu menyita waktumu untuk sekadar membeli butiran permen manis penghilang rasa gundah yang selalu menemani sepertiga hari dalam kurang lebih rasio dua berbanding tujuh. aku berburu kejanggalan untuk digunjingkan. keberpihakan muda dalam bestari. menyuguhkan musik dengan tarian mistis penenang liarnya anatomi. kasarnya, tak terasa aku dihempaskan wahana tornado meluncur mendekap tanya. lalu kaku, tak tersentuh mereka yang dengan pasti mengaku mengenalimu. aku memandang awan, layaknya kaum intelek mencoba meramu rasa menjadi potongan lirik yang kamu anggap itulah satu yang bukan manusia yang mengerti hati hari ini. dengan pakaianku yang sedikitnya perlu mendapat perhatian, yang telah terbebani jutaan rintangan dalam perjalanan menuju langit lepas. penuh peluh, berpikir penuh. siapa tahu pasti bahwa penikmat hening tak mempekerjakan otak sendiri? hening perlu, untuk meniadakan riak yang tak perlu.

Hujan (I-III), (IV).

photo(1)

malam hari, di sudut ruang yang temaram, membayangkan sebuah pertemuan yang berlangsung pada suatu petang di hutan kota. tentang seorang yang nampak tenang, namun dipenuhi pikiran yang entah pada siapa ia yakin mengutarakan. ya, petang itu hujan datang perlahan. salah satu yang dianggapnya teman. pemantik untuk menyegerakan tenang.

adalah representasi dari simpulan dialog dengan Ryani Puspa Kirana. banyak hal yang membuat bebunyian ini tak terasa biasa, antara lain beberapa apresiasi dari mereka yang tak kuketahui. secara signifikan, keempat bait hujan ini mengubah sudut pandang.

Lalu.

abd

ada rasa haru ketika langkah telah mendekati yang dituju. bukan, bukan kepuasan akan apa yang telah dilakukan. namun sebuah tanya yang bergumul di kepala, menetap di dalam sana. lalu apa setelah ini semua?

periode kala usia tak lagi pantas dikatakan muda, memaksaku untuk menerima, bahwa sudah seharusnya aku bersiap merapikan tatanan rambut dan menebalkan suara. namun layaknya titik perhentian, tanpa sesiapa dalam keraguan yang sama, berjalan dengan bekal pelajaran dalam perjalanan selama ini adalah penerang di kegelapan. lalu kita berpura-pura menjadi dewasa, dengan ingatan akan masa-masa menyenangkan di kepala.