Category Archives: Racau

Periode: Pekat.

image

dan ketika ruang tak lagi mempertemukan, ada saja hal yang tak terencana yang menyelundup meminta laksana. dan apa yang telah terbiasa, menjadikan rasa malas untuk menyeruak. apa yang semestinya dipertanyakan? semua menyenangkan. kita berhak menolak menjadi bagian dari generasi pelik, di mana satu dan lainnya saling memperalat delusi untuk hal yang begitu elusif.

seperti ketika seluruh kadar oksigen yang kita isap selama membicarakan kaitan burung dan bahagia, meruah di hadapan kedua mata yang selalu berusaha memalingkan sentralnya. aku tak punya urutan waktu untuk itu. aku membiarkannya merupa awan itu. ketika saatnya tiba, enyahlah ia.

Bandung, 16 Januari 2016.

Advertisements

Periode: Kilat.

image(1)

ada satu waktu, aku mengutarakan maksud kedatangan. perihal apa yang melarungkanku hingga teras disesaki sajian hangat dan minuman dingin kesukaanku. sebuah salam yang mendalam, yang biasa disampaikan para pendaki ketika hendak menginjakkan kaki di pelataran alam. aku tak ingin semua terbuka, layaknya awan yang bersedia enyah demi langit terlihat luasnya.

celah-celah itu tak sengaja berupa siasat untuk segera dikemukakan. hanya saja, kadang, samar itu beralih menjadi begitu eksplisit. terang, sebagai poin utama dari apa yang selama ini mengganggu pagi yang hangat ataupun malam yang menyesatkan. maka, tak ada lagi alasan untuk membuatnya terburu-buru. awan akan hilang pada waktu yang tak ditentukan.

Bandung, 16 Januari 2016.

Karena Bebas, Biarlah Lupa.

IMG_2050

mengitari senjang di antara gerak dan diam-mati. senyuman berserakan, harapan. munculnya mengikutinya. dia yang ditopang sesama yang beda, pemenang rangkulan sesiapa. secercah harapan, sekelebat silau yang menina-bobokan. yang hampir saja dilupakan rasa. empati melesat tak terkira, tak sejari pula apatis bersuaka. untuk kota, meninggalkan gelap yang kemarin ada.

adanya munculkan bebas. menghirup udara dalam kubangan, adalah kita setiap harinya. sekotak permen fasih dibagikan pion. agar suar terpancar. media bersahutan, bersorak bahas gaduh performa. simfoni. simposium dirakit. kebebasan di tangan kita. lalu segera kilatan yang biasa terduga. aturan, aturan, tertata. dua wajah masih ada rias. oleh karena bernama pemerintah.

afiliasi sana-sini. membentuk kekuatan. semangat marhaenisme yang bisa saja lepas dari awas. citra, citra, ramah-tamah. rasanya takkan lama, rasa melupa. setelah zona kembali biasa. biru, abu, merah, jingga, biru biasa.

kebebasan yang menjadi bukan ada. perundangan bisa samar, karena burung bebas mengangkasa. dia muram, mengingatkan apa-apa. siapa yang menyilakan gelas untuk dituang suka? kapan pula melihat titik didih selain pada puncaknya. dingin hilang, menawarkan panas melewati hangat. inikah tawar? dalam buku yang dihias pena. dalam udara, angin utara.

massa gemar bicara. dia tertawa, lalu siapkan batas dan sergap. kita bebas dalam sangkar yang tak nampak sejangkauan mata.

Bandung, 22 Juli 2015.

Ibu.

nrk

sore itu, aku sengaja mengemas CD album L’alphalpha – When We Awake All Dreams Are Gone. kuputar di mobil, dengan volume di angka 6. cukup nyaman untuk menjadi backsound di tengah perbincangan yang ragu untuk aku mulai. aku sedang satu mobil dengan ibuku. baru saja berdebat tentang tempat berobat bagiku. kikuk rasanya.

aku sayang beliau. seorang yang entah harus menyalahkan siapa ketika sedang ada masalah. seorang yang selalu menghabiskan banyak waktu untuk bersujud sehabis shalat wajib. seorang yang belum mau tidur sebelum mencuci piring dan mengepel lantai. agak unik.

belakangan, sedikit sekali waktu yang kami miliki untuk berbincang. biasanya beliau sering memamerkan foto maupun video Nara, cucu pertamanya, dengan perasaan senang. kadang aku tak kuat berlama-lama menghabiskan waktu. skripsiku, hobiku, dan segala hal duniawi sudah menunggu.

bu, sesungguhnya aku ingin memutarkan seluruh lagu di album itu. mengulangnya lagi. atau kuputarkan lagu klasik yang biasa ibu nyanyikan selagi menyiapkan makan malam. aku ingin lagu, yang begitu aku sukai, menemani percakapan kita. sambil kita duduk di meja makan, yang jarang sekali dijadikan tempat berkumpul sekeluarga karena ruang makan kita yang sempit serta kesibukan semuanya yang memaksa ibu harus menunggu satu persatu pulang, kadang hingga tak tidur.

aku masih ingin mencium kaki ibu sebelum pergi ke kampus. ibu bilang kaki ibu kotor, kasihan aku. tapi anggap saja itu permintaan maafku karena jarang menemani ibu setengah hari pun.

aku sayang ibu. nanti kuputarkan album lainnya untuk menemani perbincangan kita. sesempat waktu.

Bandung, 26 November 2014.

Kearifan Lokal: Biru.

21

namun seseorang tentu akan membantu menutup keran air yang telah memenuhi seluruh ruang bak mandi. dan sesegera mungkin siap mengatasi gerahmu yang nyaman mengerubungi. terima kasih untuk hidup yang indah ini, dengan segala rasa empati.

dan semua memang terlihat sepi, bagiku, baginya pula. bagi kita semua seharusnya. namun adakah waktu sejenak untuk merasa sendiri, hingga mampu merefleksikan rasa terhadap sesama. aku dan waktu yang tidak seberapa ini punya banyak mimpi, namun tentu tak semua harus dipenuhi. garis-garis realistis yang mesti kakiku menapakinya. semua hanya tentang melihat dirimu sendiri, melihatmu mendaki gunung itu hingga mencapai kawah panas. dan begitu seterusnya, sampai bak kembali terisi. dan terpenuhi. dan hilang lagi.

aku pun masih melihat diriku, dari tulisan-tulisanku yang membuat sekelilingku menilaiku gila. menilaiku di luar mereka. aku adalah teman terdekatku. maka sesiapa tentu tak pernah sendiri. di keramaiannya, di kesunyiannya, semua orang bersama dirinya sendiri.

Pangalengan, 27 Januari 2014.

Kearifan Lokal: Hijau.

2

pencuri waktu di antara sekelebat padat yang mengganggu. namun selalu menyenangkan berlari dari hari. melihat yang tak terlihat. mengingat yang tak sempat kita ingat, tapi ada.

malam kemarin kami bergegas menuju kota sebelah sana. dengan sesuatu yang aku suka, ketidakpastian. dan selalu begitu, mendapati hal yang membuatmu melihat dan mengingat. manusia-manusia yang terlelap tenang, sunyi dengan satu-dua mesin mobil melintas terdengar. sesuatu yang tak pernah aku temui di sini, di tempatku menulis ini.

hamparan kebun teh, malam itu mencekam seperti sedang menghadapi jurit malam Sekolah Menengah Atas. namun tidak pagi hari. matahari muncul dengan memaksa sunggingan bibirku. mengusap keringat setelah lelah memetik pucuk daun teh. kendaraan besar menjemput hasil petikan dan tenanglah beliau karena anaknya bisa tetap bersekolah di atas lahan milik Perhutani. yang selalu ingin aku lakukan setelah mendapatkan amplop gajiku dari hasil peran menjadi pengadil kecil. bersyukur. dan sesederhana itu, aku menuliskan cerita kecil di luasnya lahan perkebunan.

Pangalengan, 26 Januari 2014.