Category Archives: Aksara

Introduksi: 02.

pena

segan aku kepada kerabatku yang satu ini. sudah lama aku tak pepatkan waktu secara intensif bersama pena, terlebih setelah tangan yang biasa kugunakan untuk menulis mengalami pergeseran tulang, mengikuti tangan selainnya yang terlebih dahulu mengalaminya. semakin lengkap dengan segala tuntutan yang menyertaiku untuk memusatkan jeriji pada huruf dan angka dan simbol pada tuts yang terpusat unit dan terpecah fraksi. kau tahu? aku merindu, seperti masakan ibu yang tak pernah dikunyah seisi penghuni rumah. seperti pagi yang rasanya sama saja layaknya malam tadi. buta, tak terkendali.

aku membutuhkanmu, untuk mencatatkan beberapa laku seusai temu. anjing kecil yang membuntutiku selepas aku melewati pagar besi berwarna hitam, atau dua orang tetangga berparas tua yang masing-masingnya berubah raut saat bertatap rupa tak seperti seharusnya. sesempat waktu, kuajak lagi kau menuju petang yang kita suka, bersama buku catatan yang menghantarkan kita pada perasaan melupa dan melangut sesukanya.


dengannya, kubagikan suara berjudul Buka milik para tetua yang diambil dari album Elora.

Advertisements

Introduksi: 01.

serebrum

biar kuperkenalkan kepadamu. Serebrum, kerabatku. ia ditemukan pada jalur yang rutin dilewati oleh sebarisan anak kecil berseragam putih-merah, merokok, menikmati pagi sambil berjalan menghadap guru yang ia benci. dalam lajur beraspal hitam, jejak kaki menghentak menunjukkan kehadiran seorang yang ramah, dan tak malu untuk ditertawakan. masih kuat dalam ingatan, sebuah pertemuan di kedai kecil dengannya, diselingi obrolan singkat membahas apa saja yang tengah ia rencanakan dalam menempuh dunia yang selalu penuh dengan persaingan. begini, begitu, lalu ini, dan itu. ia berkawan dengan sesiapa saja yang mampu mengaras terminasi.

hari ini, entah berapa tahun setelah serdadu lata menambus batang rokoknya, ia tak menunjukkan gelagat macam-macam, seakan tak memiliki hasrat, memilih diam. apa yang tengah ia rencanakan? mungkinkah ia tengah merencana dengan tak mempersilakan sesiapa mengetahui urutan langkahnya? sefasis itukah inti memengaruhi selira? ia tak ubahnya sebuah benda mati yang kaku dan tenggelam bilamana ditaruh di atas permukaan air tenang.


dengannya, kubagikan suara berjudul Rauta milik sekelompok pemuda dari Swedia.

Menakar, Menduga, dan Memetakannya.

wa

bacalah secara perlahan. tanpa tergesa. tanpa suara-suara yang menghancurkan irama yang tersusun sedemikian rupa. sejak beberapa waktu, hingga petang lalu.

kau tak akan pernah menemukan titik henti, tanpa mencukupkan diri. terima kasih telah berkenan hadir, yang menurutku tak mungkin tercapai namun akhirnya kugapai.

Menakar, Menduga.

f

dan setiap kesedihan membawaku pergi menuju titik terjauh dari ruang tenang yang beberapa di antara kita mesti membayarnya. seperti kali ini, yang menarikku hingga ke selatan. dan hujan sesekali menampakkan diri, selayaknya bunga matahari yang membuka diri untuk dinikmati sesukanya oleh sang lebah dan kolega. herannya, tubuhku tak tersentuh, seakan ia jatuh sepersekian milimeter darinya. meski sesekali juga kuberhentikan naluri dan menepi. sepandai-pandainya otak menipu, aku sadar, aku bersama kematian yang terus mengintaiku.

aku mengingat lagi sebuah teori dalam buku, bahwa tak ada menceritakan dalam setiap mengikhlaskan. ia butuh menyendirikan keberadaan, menjadi yang terasing di antara sekeliling. diam, diam, hening, lalu hilang. adakah yang kau pahami selain dari apa yang kau yakini? begitu kataku pada nalarku. seolah berdiskusi dengan manusia, nyatanya ia tak berlawan bicara.

manusia adalah kesendirian yang tak sempurna. maka bagaimanapun juga, ia mempersilakan selainnya.

Jalan, Semarang.

img_6579

tertidur. kuatur hidup sedemikian rupa hingga melantur. satu terlepas, tiga mematut paras. aku ingin pergi menuju ladang luas penuh ilalang gatal yang menyerangku selepas fajar tanpa terlebih dahulu mengenaliku. benalu, menjadi siang dan buku, menakar nalar dan laku. menghampiri setiap nama baru yang wangi menyaru. setiap musik yang kudengar di sela waktu, setiap isu yang hangat dan tak tentu.

aku adalah sebentuk kesedihan yang sesekali menggerutu. aku adalah sebentuk kesedihan yang tak pernah sudi dikasihani. aku adalah sebentuk kesedihan yang mencoba melepaskan, dan kembali menyiarkan keyakinan, untuk meyakinkan diri bahwa akan ada keadilan bagi mereka yang meyakini.

Selatan.

IMG_4982

andai semua empati mengalir begitu saja selepas potret dan aksara dibagikan kepada mereka yang bahkan antusiasnya saja tak seperti ucapnya. kita menjadi begitu terbuka berkat beberapa andil mereka, mengatasnamakan berbagi adalah merasa, satu adalah lainnya. mengapa aku menulis jika hanya untuk mengabur? menulis “anjing” bukan sebagai umpatan, melainkan naluri yang tak mampu hilang menuju laut selatan. karena mereka tak butuh itu. sementara aku sebaliknya, untuk memahami apa yang benar-benar ada. untuk hidup yang bukanlah pengulangan dari apa yang telah dipelajari.

untuk apa bercerita jika hanya menguras pena?


Rupadhatu – Hutan Hujan Tropis

Zat Kimia – Dalam Diam

Stars and Rabbit – Man Upon The Hill

Auroracoustic – The Silence That Calls You

Muktito Adhitya – Perspektif

Aksen.

IMG_5004

jadilah diam si perengut bisu. cakra murka menyadur mara, menang bertinju di lapang lodaya. lawan dihantam logam, setenang rusa merenggut nyawa manusia.

jadilah toko buku aksara di jakarta. gelepar menjajakan kata demi kata penuh raba. urun rembuk urung terselenggara. aksara tak lagi bernas. mangkus membumihangus.