Category Archives: Kolom

Kontekstual.

menidurkan mara di lantai teratas dalam sebuah gedung yang mampu memecah angin menghirup lapisan terluar tubuhku. tanpa sebentuk hangat yang kupercaya, ia mampu meretas menjadikanku kudapan yang takkan dihabiskan. menyisakanku berupa sebentuk rasa yang menyakitkan. meminta ampun aku pada fase terhebat ini. sementara ia masih saja marah kepadaku yang kebal bahasa.

aku dan pola ruang yang menampilkan rona dalam beragam rupa, dalam paruh waktu, tanpa sempat menikmati hening sebagai momentum berkontemplasi. apabila mata lupa terpejam, maka biarkan siang menjadi kelelapan yang mengenyangkan.

Opium.

mengingat setiap detailnya. lalu semarah-marahnya. sebentuk samudera yang menantang dan menyapa di satu dan suaka. aku membiru mendengarkan isi kepala yang meraung dan binasa. kau tau rasanya gila? mari sini hampiri aku dan nada-nada sendu yang tak sengaja terekam dalam seperangkat alat komunikasi yang olehnya kita mampu bercakap dan tertawa. menghubungi mereka-mereka yang kita percaya untuk tetap terhubung dan sejenak merasa biasa saja.

malam itu aku kembali ke ruangku. visualkan dalam pikirmu; lantai atas, ruang kosong, empat buah ventilasi berbentuk persegi, dan kenangan yang menciptakan loncatan pikir sesegeranya tanpa ampun yang hanya mampu membuat tangisku tak terelakkan dan mataku memerah dengan perasaan haru memanipulasi kehadiran sosok yang terkasihi ada di sisi sebelahku. aku jelas mengingatnya. mereka yang membuatku kesal karena selalu merasa mampu memperdaya nalarku padahal tak semudah itu. pikirku lebih jauh dari kiraan mereka, menembus bagian terdalam yang bahkan aku sendiri tak pernah mempersilakan apa pun ke dalamnya.

aku ingin katakan, bahwa pikiranku melebihi kapasitasku sebagai manusia dengan kesehatan jiwa yang dapat dikatakan aman. dan setiap kebohongan yang kudengar, akan selalu mampu kuurai menjadi sebuah jawaban yang menenangkan.

Non-Kooperatif.

sepersekian detik menujumu. lorong-lorong berhantu menguji tanpa tahu bahwa nyaliku tak sebanding dengan kapasitasku sebagai penantang. aku bermulut besar untuk menutupi kecilnya kesempatan bersandar. aku disesaki ratusan pil yang meminta masuk melalui mulut, hidung, bahkan telingaku bila memungkinkan.

aku dan sebentuk persegi yang tak simetrik dengan deretan tragedi sinematik. mengambil alih kemudi pun tak berdaya. ia dihantam segerombol perompak yang mengaku menguasai tujuh puluh tiga koma empat persen saham dari perusahaan bernama serebrum. terisolir di tanah yang bersertifikasi atas nama yang sama dengan nama yang tertera di kartu tanda penduduk milik pribadi, layaknya petani yang tak punya satu pun kemenangan melawan sepasukan tentara dan korporasi bergaya repetisi dalam setiap diskusi. ia melawan hingga nanti saatnya tiba dilarikan ke klinik terdekat tanpa kendaraan angkut, hanya mampu melawan setiap kesakitan untuk terus berjalan menujunya.

malam ini hujan turun. dan kau tahu itu.

Elak.

img_5047

berlaku yang tak sepenuhnya kau tahu. mengerang kesakitan. pagi hari dengan tak menyempatkan diri berkontemplasi. membenci cuaca hari ini dengan mengutuk saturasi.

menulis adalah hal yang kupelajari setelah bicara dan membaca. dan ia menjadi yang paling kupercaya dan bebas berkelana. dan melangkah sejauh ini, selama ini, seperti upaya membelot dari kesepakatan tak tertulis antara aku dan bapakku. suara sumbang bukan hanya dari mereka yang mengaku mengenalku, namun juga mereka yang namanya tercantum dalam kartu. siapa yang tahu pasti jalan yang dibukakan oleh Tuhanmu?

mengatur posisi sedemikian rupa tanpa berancang segalanya, jauh sebelumnya. sementara memoar melupa. aku butuh kain hangat yang tebal agar tubuhku becus berdiskusi. nanar bila memaksa terus seorang diri. terlampau sunyi.

Introduksi: 02.

pena

segan aku kepada kerabatku yang satu ini. sudah lama aku tak pepatkan waktu secara intensif bersama pena, terlebih setelah tangan yang biasa kugunakan untuk menulis mengalami pergeseran tulang, mengikuti tangan selainnya yang terlebih dahulu mengalaminya. semakin lengkap dengan segala tuntutan yang menyertaiku untuk memusatkan jeriji pada huruf dan angka dan simbol pada tuts yang terpusat unit dan terpecah fraksi. kau tahu? aku merindu, seperti masakan ibu yang tak pernah dikunyah seisi penghuni rumah. seperti pagi yang rasanya sama saja layaknya malam tadi. buta, tak terkendali.

aku membutuhkanmu, untuk mencatatkan beberapa laku seusai temu. anjing kecil yang membuntutiku selepas aku melewati pagar besi berwarna hitam, atau dua orang tetangga berparas tua yang masing-masingnya berubah raut saat bertatap rupa tak seperti seharusnya. sesempat waktu, kuajak lagi kau menuju petang yang kita suka, bersama buku catatan yang menghantarkan kita pada perasaan melupa dan melangut sesukanya.


dengannya, kubagikan suara berjudul Buka milik para tetua yang diambil dari album Elora.

Introduksi: 01.

serebrum

biar kuperkenalkan kepadamu. Serebrum, kerabatku. ia ditemukan pada jalur yang rutin dilewati oleh sebarisan anak kecil berseragam putih-merah, merokok, menikmati pagi sambil berjalan menghadap guru yang ia benci. dalam lajur beraspal hitam, jejak kaki menghentak menunjukkan kehadiran seorang yang ramah, dan tak malu untuk ditertawakan. masih kuat dalam ingatan, sebuah pertemuan di kedai kecil dengannya, diselingi obrolan singkat membahas apa saja yang tengah ia rencanakan dalam menempuh dunia yang selalu penuh dengan persaingan. begini, begitu, lalu ini, dan itu. ia berkawan dengan sesiapa saja yang mampu mengaras terminasi.

hari ini, entah berapa tahun setelah serdadu lata menambus batang rokoknya, ia tak menunjukkan gelagat macam-macam, seakan tak memiliki hasrat, memilih diam. apa yang tengah ia rencanakan? mungkinkah ia tengah merencana dengan tak mempersilakan sesiapa mengetahui urutan langkahnya? sefasis itukah inti memengaruhi selira? ia tak ubahnya sebuah benda mati yang kaku dan tenggelam bilamana ditaruh di atas permukaan air tenang.


dengannya, kubagikan suara berjudul Rauta milik sekelompok pemuda dari Swedia.

Kematian Paman di Kediamannya.

kovr

“mungkin itu sebabnya hanya aku yang dibuat pantas berkelakar panjang lebar, karena sebentar lagi aku mati, haha.” aku mengingat lagi kalimat yang ia ucapkan saat aku berkunjung ke sana, kediaman paman. aku mengingatnya begitu detail. ujung bibirnya yang tak menunjukkan bahwa ia tengah menikmati masa tua, namun pikirnya yang luas mementahkan anggapanku. ia adalah apa yang ia pikirkan. dan kematiannya petang tadi, tak lama setelah ia mengoceh tentang struktur tanah yang tepat untuk kuburnya. begitu kata bibi, menceritakannya kepadaku.

namun ternyata ada yang ia sembunyikan dariku. tapi tidak dari bibi. kata bibi, ia tak hentinya menangis akibat serebrumnya sendiri. aku terheran ketika membaca epilog kisahnya. bahwa terlalu banyak ia melewatkan setiap kesempatannya berbahagia. ia merelakan tangis dan cemas menyemakkan seluruhnya. dan bangku dan rokok dan lara dan jam dinding yang melewati pukul tiga dini hari adalah hal yang biasa ia nikmati.

paman nyatanya adalah manusia yang pintar bersembunyi. manusia yang menjauh dari memanusiakan dirinya. manusia yang lupa di mana batas miliknya. manusia yang terus memercayai alai-belai pikirnya. manusia yang menahan lara meski ia tahu ia takkan pernah mampu berbuat seperti itu. manusia yang di balik itu semua, ia berusaha memandang secara deduktif. seperti setiap doa yang dipanjatkan oleh pak tua kepada Tuhannya bahwa ia mendesak kematian yang secepatnya. seperti hantu yang terus saja mencoba merasukimu tanpa tahu bahwa seisimu adalah kosong yang sesak. sesak akan pikiran, kecemasan, ketakutan, penyesalan, perasaan bersalah, menetap di sana tanpa tahu aturan waktu, melampaui kemampuanmu dalam bertahan.

paman mati. kepada siapa lagi aku berkeluh dan bertanya dan berbagi. karena aku ingin sekali mendapatkan jawaban. tentang bolehkah aku memanjatkan doa yang sama seperti pak tua.