Author Archives: Pandu Arjasa

Kediaman Paman: 07.

tahun telah menyematkan diri di paruh ketiga dalam pembagiannya. sebuah konklusi dengan serangkaian nada dan cuaca yang memekakkan telinga, hingga memerah meminta waktu jeda. aku adalah penulis wara, penata laksana. mencatat beberapa laku yang melintas mewangi. selepas kepergian paman, tak banyak tempat yang aku singgahi. semua begitu muram, sedikit memberiku pencahayaan.

tempat itu selalu mampu melelapkanku untuk berdiam diri, mempersilakan hening menggerayangi seisiku. tempo hari, secara sadar, aku kemudikan kendaraanku menuju kediaman paman. namun rasa cemas menggagalkan upaya itu. membayangkan celoteh bibi yang pasti tiada henti, sepeninggal paman, tentu saja dengan agunan akan ada waktu yang memaksa haru. kau tahu, Kartika sudah lama menetap di ibu kota, sementara Mulyadi menjanjikan kelulusannya tahun depan. sebuah realitas, menelan tenggat setahun menghabiskan omong kosong semalaman, sendirian. nahas.

sebetulnya ada sebuah tempat yang mampu memenuhiku dalam menuliskan catatan. besok aku ceritakan sehabis menyimak kawanku berpanjang kalam di selasar swasta.

Advertisements

Noktah.

sudah masuk waktu bergegas bocah menuju sekolah. matahari sedang baik, ia menyilaukan tembok kamarku. berpaling aku dari sinar lampu. menenggak minuman sisa semalam, agar mampu kepalkan tangan.

ah, hari ini kudengar cukup dinantikan. hari besar bagi mereka yang menghamba pada kekayaan. dua puluh lima ku menetap merebah pada langit, apa yang ditawarkan laut membuatku muram. di balik pesona, kepintaran merendahkan martabat atas nama singgasana. ia paham, empunya telah menganggapnya sebagai Tuhan.

aku memahami inteligensi; sekolah tinggi-tinggi tak ada relevansinya dengan kemampuan bersikap manusiawi.

Kontekstual.

menidurkan mara di lantai teratas dalam sebuah gedung yang mampu memecah angin menghirup lapisan terluar tubuhku. tanpa sebentuk hangat yang kupercaya, ia mampu meretas menjadikanku kudapan yang takkan dihabiskan. menyisakanku berupa sebentuk rasa yang menyakitkan. meminta ampun aku pada fase terhebat ini. sementara ia masih saja marah kepadaku yang kebal bahasa.

aku dan pola ruang yang menampilkan rona dalam beragam rupa, dalam paruh waktu, tanpa sempat menikmati hening sebagai momentum berkontemplasi. apabila mata lupa terpejam, maka biarkan siang menjadi kelelapan yang mengenyangkan.

Opium.

mengingat setiap detailnya. lalu semarah-marahnya. sebentuk samudera yang menantang dan menyapa di satu dan suaka. aku membiru mendengarkan isi kepala yang meraung dan binasa. kau tau rasanya gila? mari sini hampiri aku dan nada-nada sendu yang tak sengaja terekam dalam seperangkat alat komunikasi yang olehnya kita mampu bercakap dan tertawa. menghubungi mereka-mereka yang kita percaya untuk tetap terhubung dan sejenak merasa biasa saja.

malam itu aku kembali ke ruangku. visualkan dalam pikirmu; lantai atas, ruang kosong, empat buah ventilasi berbentuk persegi, dan kenangan yang menciptakan loncatan pikir sesegeranya tanpa ampun yang hanya mampu membuat tangisku tak terelakkan dan mataku memerah dengan perasaan haru memanipulasi kehadiran sosok yang terkasihi ada di sisi sebelahku. aku jelas mengingatnya. mereka yang membuatku kesal karena selalu merasa mampu memperdaya nalarku padahal tak semudah itu. pikirku lebih jauh dari kiraan mereka, menembus bagian terdalam yang bahkan aku sendiri tak pernah mempersilakan apa pun ke dalamnya.

aku ingin katakan, bahwa pikiranku melebihi kapasitasku sebagai manusia dengan kesehatan jiwa yang dapat dikatakan aman. dan setiap kebohongan yang kudengar, akan selalu mampu kuurai menjadi sebuah jawaban yang menenangkan.

Non-Kooperatif.

sepersekian detik menujumu. lorong-lorong berhantu menguji tanpa tahu bahwa nyaliku tak sebanding dengan kapasitasku sebagai penantang. aku bermulut besar untuk menutupi kecilnya kesempatan bersandar. aku disesaki ratusan pil yang meminta masuk melalui mulut, hidung, bahkan telingaku bila memungkinkan.

aku dan sebentuk persegi yang tak simetrik dengan deretan tragedi sinematik. mengambil alih kemudi pun tak berdaya. ia dihantam segerombol perompak yang mengaku menguasai tujuh puluh tiga koma empat persen saham dari perusahaan bernama serebrum. terisolir di tanah yang bersertifikasi atas nama yang sama dengan nama yang tertera di kartu tanda penduduk milik pribadi, layaknya petani yang tak punya satu pun kemenangan melawan sepasukan tentara dan korporasi bergaya repetisi dalam setiap diskusi. ia melawan hingga nanti saatnya tiba dilarikan ke klinik terdekat tanpa kendaraan angkut, hanya mampu melawan setiap kesakitan untuk terus berjalan menujunya.

malam ini hujan turun. dan kau tahu itu.

Elak.

img_5047

berlaku yang tak sepenuhnya kau tahu. mengerang kesakitan. pagi hari dengan tak menyempatkan diri berkontemplasi. membenci cuaca hari ini dengan mengutuk saturasi.

menulis adalah hal yang kupelajari setelah bicara dan membaca. dan ia menjadi yang paling kupercaya dan bebas berkelana. dan melangkah sejauh ini, selama ini, seperti upaya membelot dari kesepakatan tak tertulis antara aku dan bapakku. suara sumbang bukan hanya dari mereka yang mengaku mengenalku, namun juga mereka yang namanya tercantum dalam kartu. siapa yang tahu pasti jalan yang dibukakan oleh Tuhanmu?

mengatur posisi sedemikian rupa tanpa berancang segalanya, jauh sebelumnya. sementara memoar melupa. aku butuh kain hangat yang tebal agar tubuhku becus berdiskusi. nanar bila memaksa terus seorang diri. terlampau sunyi.

Saksama (II).

img_7992

kalau kau pikir menulis hanya akan menjadikanmu terlihat baik di depan mereka selainmu, mungkin ada yang salah. menulis membuatmu mampu berkomunikasi dengan diri selainmu yang tinggal di dalammu. terkesan mencekam, namun itu yang selama ini aku rasa. itu membantumu memahami apa maumu yang tertahan, ataupun sengaja kau tahan, di dalam dada. melalui tulisan yang kubuat, aku menjadi paham apa mauku. apa pikirku. apa keluhku. apa dan siapa aku.

namun ada hal yang terbebang saat menulis. emosi yang masih saja terkurung dalam lembar putih maupun laman kosong. maka kubuatkan nada sederhana, hanya untuk melagukannya, dan membuatku benar-benar tahu apa yang menggangguku. seperti pada kata “saksama”, yang kulepaskan dalam suara dan menangis sejadi-jadinya, yang takkan pernah kentara bila hanya berupa aksara.

silakan berprasangka, karena aku saja belum paham apa yang benar-benar hendak aku maksudkan, meski secara tegas akulah si pengutara.