Noktah.

sudah masuk waktu bergegas bocah menuju sekolah. matahari sedang baik, ia menyilaukan tembok kamarku. berpaling aku dari sinar lampu. menenggak minuman sisa semalam, agar mampu kepalkan tangan.

ah, hari ini kudengar cukup dinantikan. hari besar bagi mereka yang menghamba pada kekayaan. dua puluh lima ku menetap merebah pada langit, apa yang ditawarkan laut membuatku muram. di balik pesona, kepintaran merendahkan martabat atas nama singgasana. ia paham, empunya telah menganggapnya sebagai Tuhan.

aku memahami inteligensi; sekolah tinggi-tinggi tak ada relevansinya dengan kemampuan bersikap manusiawi.

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s