Kontekstual.

menidurkan mara di lantai teratas dalam sebuah gedung yang mampu memecah angin menghirup lapisan terluar tubuhku. tanpa sebentuk hangat yang kupercaya, ia mampu meretas menjadikanku kudapan yang takkan dihabiskan. menyisakanku berupa sebentuk rasa yang menyakitkan. meminta ampun aku pada fase terhebat ini. sementara ia masih saja marah kepadaku yang kebal bahasa.

aku dan pola ruang yang menampilkan rona dalam beragam rupa, dalam paruh waktu, tanpa sempat menikmati hening sebagai momentum berkontemplasi. apabila mata lupa terpejam, maka biarkan siang menjadi kelelapan yang mengenyangkan.

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s