Opium.

mengingat setiap detailnya. lalu semarah-marahnya. sebentuk samudera yang menantang dan menyapa di satu dan suaka. aku membiru mendengarkan isi kepala yang meraung dan binasa. kau tau rasanya gila? mari sini hampiri aku dan nada-nada sendu yang tak sengaja terekam dalam seperangkat alat komunikasi yang olehnya kita mampu bercakap dan tertawa. menghubungi mereka-mereka yang kita percaya untuk tetap terhubung dan sejenak merasa biasa saja.

malam itu aku kembali ke ruangku. visualkan dalam pikirmu; lantai atas, ruang kosong, empat buah ventilasi berbentuk persegi, dan kenangan yang menciptakan loncatan pikir sesegeranya tanpa ampun yang hanya mampu membuat tangisku tak terelakkan dan mataku memerah dengan perasaan haru memanipulasi kehadiran sosok yang terkasihi ada di sisi sebelahku. aku jelas mengingatnya. mereka yang membuatku kesal karena selalu merasa mampu memperdaya nalarku padahal tak semudah itu. pikirku lebih jauh dari kiraan mereka, menembus bagian terdalam yang bahkan aku sendiri tak pernah mempersilakan apa pun ke dalamnya.

aku ingin katakan, bahwa pikiranku melebihi kapasitasku sebagai manusia dengan kesehatan jiwa yang dapat dikatakan aman. dan setiap kebohongan yang kudengar, akan selalu mampu kuurai menjadi sebuah jawaban yang menenangkan.

Advertisements

One thought on “Opium.

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s