Menakar, Menduga.

f

dan setiap kesedihan membawaku pergi menuju titik terjauh dari ruang tenang yang beberapa di antara kita mesti membayarnya. seperti kali ini, yang menarikku hingga ke selatan. dan hujan sesekali menampakkan diri, selayaknya bunga matahari yang membuka diri untuk dinikmati sesukanya oleh sang lebah dan kolega. herannya, tubuhku tak tersentuh, seakan ia jatuh sepersekian milimeter darinya. meski sesekali juga kuberhentikan naluri dan menepi. sepandai-pandainya otak menipu, aku sadar, aku bersama kematian yang terus mengintaiku.

aku mengingat lagi sebuah teori dalam buku, bahwa tak ada menceritakan dalam setiap mengikhlaskan. ia butuh menyendirikan keberadaan, menjadi yang terasing di antara sekeliling. diam, diam, hening, lalu hilang. adakah yang kau pahami selain dari apa yang kau yakini? begitu kataku pada nalarku. seolah berdiskusi dengan manusia, nyatanya ia tak berlawan bicara.

manusia adalah kesendirian yang tak sempurna. maka bagaimanapun juga, ia mempersilakan selainnya.

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s