Kediaman Paman: 05.

IMG_5007

“masih mengingat kabar duka tujuh tahun yang lalu?”. satu kalimat tanya meluncur secara tiba-tiba, disusul cangkir teh yang disergap oleh tangan kanan paman, yang kuyakin betul masih panas terasa. “aku ingat tulisanmu, menyoal alasan-alasan kau masih tahan hidup sebagai bukan apa-apa,” lanjut paman. ingatan dengan cepat bergerak menuju arsip lama, menerobos menembus benteng memoar menemui kata perkata. kisah itu pernah tercatat dalam media tulis, menumpuk di meja kerja yang dipenuhi ceceran warna biru, hitam, pena dan cita. aku menunggu kalimat berikutnya yang keluar dari mulut paman, meski tanyanya belum gentas.

“mungkin itu sebabnya hanya aku yang dibuat pantas berkelakar panjang lebar, karena sebentar lagi aku mati, haha,” lagi-lagi kalimat yang lugas dan tak terduga. aku diam. dalam hati, aku jawab, ya, namun bukan berarti aku berbicara hanya dengan mereka yang segera menemui ajal. paman tahu betul setiap detail yang bahkan aku sendiri tak menyadari. aku senang menyimpan cerita, meleburkannya pada sebuah laman kosong yang aku gurat dengan kata-kata yang mengabur, tak menyerupai sesungguhnya. lantas suatu waktu kuterangkan kepada mereka yang sangat menghendaki makna di dalamnya. dan mungkin, kebiasaan ini memang berlangsung sejak itu, sejak tujuh tahun yang lalu.

dua kalimat itu belum mendapat balasan. aku sibuk menenangkan raut wajah, mengatur kerut agar tak sampai bilur. aku tersudut. lalu menyulut api hendak membakar tembakau. belum habis sepuluh menit terlalui, pikiranku sudah mampu dihabisi.

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s