Substansial: 02.

ko

bagi yang terelakkan di sudut sebuah peron, dini hari tanpa cuplikan mimpi. menentang kantuk, berantuk dengan lambung yang tak sempat bersentuhan dengan hasil dari si penanak. semua begitu parsial. tak lama kemudian, tampak raut wajah yang tak berarah. segeralah ia memantik. timbul pijar, cerutu terbakar. tengadah ia, dengan pikiran dipenuhi racauan. paradoks. untuk apa memercayai anotasi bila keyakinan telah memenuhi. lalu ia sadar, tanpa pemantik, ia akan mati dihabisi cela dalam lembar interpretasi. kereta tiba, cerutu dimatikannya.

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s