Sinoptik.

ada banyak hal yang terjadi dalam hidup, yang bila kau tarik kepalamu jauh-jauh hingga kau mampu amati, ia serupa hamparan padang rumput tak berujung yang terbatas oleh kemampuan matamu dalam memandang. sulit untuk membuatnya jelah. sesekali hanya fragmen yang muncul menamai diri sebagai representasi, menguar sejumlah utas ingatan yang menjadi pijakanmu dalam berlaku. aku kini, memintas sekepal bual.

berdalih bukanlah pekerjaan mudah, apalagi bila yang hendak kau elak adalah yang terkait dengan itu; apa pekerjaanmu? tentu jawabannya bukan pendalih, karena itu hanya akan menjadikannya sebagai upaya menghamburkan dua baris kalimat saja. namun itu yang terjadi. dua baris kalimat tadi menengarai kompleksitas. kawanan yang menempati ruang percakapan yang sama, atau pegawai biro keuangan kampus yang sejak lama karib sekalipun, takkan mampu mendapati temuan yang berarti. atau begini, biar aku ringkas; dianggap remeh itu sungguh menyakitkan.

adalah aktivitas yang memungkinkan buatku untuk menjelaskan duduk persoalan dalam runutan yang definit. hanya saja aku membebaskan mereka-mereka menerka. bukankah setiap individu secara pasti memiliki sikap apriori sebelum benar-benar menelusuri?

Advertisements

Kediaman Paman: 07.

tahun telah menyematkan diri di paruh ketiga dalam pembagiannya. sebuah konklusi dengan serangkaian nada dan cuaca yang memekakkan telinga, hingga memerah meminta waktu jeda. aku adalah penulis wara, penata laksana. mencatat beberapa laku yang melintas mewangi. selepas kepergian paman, tak banyak tempat yang aku singgahi. semua begitu muram, sedikit memberiku pencahayaan.

tempat itu selalu mampu melelapkanku untuk berdiam diri, mempersilakan hening menggerayangi seisiku. tempo hari, secara sadar, aku kemudikan kendaraanku menuju kediaman paman. namun rasa cemas menggagalkan upaya itu. membayangkan celoteh bibi yang pasti tiada henti, sepeninggal paman, tentu saja dengan agunan akan ada waktu yang memaksa haru. kau tahu, Kartika sudah lama menetap di ibu kota, sementara Mulyadi menjanjikan kelulusannya tahun depan. sebuah realitas, menelan tenggat setahun menghabiskan omong kosong semalaman, sendirian. nahas.

sebetulnya ada sebuah tempat yang mampu memenuhiku dalam menuliskan catatan. besok aku ceritakan sehabis menyimak kawanku berpanjang kalam di selasar swasta.

Noktah.

sudah masuk waktu bergegas bocah menuju sekolah. matahari sedang baik, ia menyilaukan tembok kamarku. berpaling aku dari sinar lampu. menenggak minuman sisa semalam, agar mampu kepalkan tangan.

ah, hari ini kudengar cukup dinantikan. hari besar bagi mereka yang menghamba pada kekayaan. dua puluh lima ku menetap merebah pada langit, apa yang ditawarkan laut membuatku muram. di balik pesona, kepintaran merendahkan martabat atas nama singgasana. ia paham, empunya telah menganggapnya sebagai Tuhan.

aku memahami inteligensi; sekolah tinggi-tinggi tak ada relevansinya dengan kemampuan bersikap manusiawi.

Kontekstual.

menidurkan mara di lantai teratas dalam sebuah gedung yang mampu memecah angin menghirup lapisan terluar tubuhku. tanpa sebentuk hangat yang kupercaya, ia mampu meretas menjadikanku kudapan yang takkan dihabiskan. menyisakanku berupa sebentuk rasa yang menyakitkan. meminta ampun aku pada fase terhebat ini. sementara ia masih saja marah kepadaku yang kebal bahasa.

aku dan pola ruang yang menampilkan rona dalam beragam rupa, dalam paruh waktu, tanpa sempat menikmati hening sebagai momentum berkontemplasi. apabila mata lupa terpejam, maka biarkan siang menjadi kelelapan yang mengenyangkan.

Opium.

mengingat setiap detailnya. lalu semarah-marahnya. sebentuk samudera yang menantang dan menyapa di satu dan suaka. aku membiru mendengarkan isi kepala yang meraung dan binasa. kau tau rasanya gila? mari sini hampiri aku dan nada-nada sendu yang tak sengaja terekam dalam seperangkat alat komunikasi yang olehnya kita mampu bercakap dan tertawa. menghubungi mereka-mereka yang kita percaya untuk tetap terhubung dan sejenak merasa biasa saja.

malam itu aku kembali ke ruangku. visualkan dalam pikirmu; lantai atas, ruang kosong, empat buah ventilasi berbentuk persegi, dan kenangan yang menciptakan loncatan pikir sesegeranya tanpa ampun yang hanya mampu membuat tangisku tak terelakkan dan mataku memerah dengan perasaan haru memanipulasi kehadiran sosok yang terkasihi ada di sisi sebelahku. aku jelas mengingatnya. mereka yang membuatku kesal karena selalu merasa mampu memperdaya nalarku padahal tak semudah itu. pikirku lebih jauh dari kiraan mereka, menembus bagian terdalam yang bahkan aku sendiri tak pernah mempersilakan apa pun ke dalamnya.

aku ingin katakan, bahwa pikiranku melebihi kapasitasku sebagai manusia dengan kesehatan jiwa yang dapat dikatakan aman. dan setiap kebohongan yang kudengar, akan selalu mampu kuurai menjadi sebuah jawaban yang menenangkan.

Non-Kooperatif.

sepersekian detik menujumu. lorong-lorong berhantu menguji tanpa tahu bahwa nyaliku tak sebanding dengan kapasitasku sebagai penantang. aku bermulut besar untuk menutupi kecilnya kesempatan bersandar. aku disesaki ratusan pil yang meminta masuk melalui mulut, hidung, bahkan telingaku bila memungkinkan.

aku dan sebentuk persegi yang tak simetrik dengan deretan tragedi sinematik. mengambil alih kemudi pun tak berdaya. ia dihantam segerombol perompak yang mengaku menguasai tujuh puluh tiga koma empat persen saham dari perusahaan bernama serebrum. terisolir di tanah yang bersertifikasi atas nama yang sama dengan nama yang tertera di kartu tanda penduduk milik pribadi, layaknya petani yang tak punya satu pun kemenangan melawan sepasukan tentara dan korporasi bergaya repetisi dalam setiap diskusi. ia melawan hingga nanti saatnya tiba dilarikan ke klinik terdekat tanpa kendaraan angkut, hanya mampu melawan setiap kesakitan untuk terus berjalan menujunya.

malam ini hujan turun. dan kau tahu itu.