Raya.

14 Juni 2018 — 22.08

hari pertama. hari di mana hari lainnya telah memastikan hilang. ia yang tak lelah menunggu waktu sudah bersiap melupakan. jika saja dua puluh tahun yang lalu semua bisa kuatasi, mungkin aku takkan menuliskan ‘jika saja dua puluh tahun yang lalu semua bisa kuatasi’. arogansi, mereka menyebutnya. namun siapa yang tak berniat membenamkan kepala sendiri, bila dalam kurun waktu yang lama dihinggapi perasaan bersalah dan tak henti-hentinya mengutuk hari. pagi ini aku bersyukur bisa menyaksikan matahari yang dengan warnanya mampu menyelimuti setiap benda yang ia temui. pagi pertama di mana pagi lainnya telah memastikan hilang.

15 Juni 2018 — 08.35

buku beterbangan. apakah ia bernyawa, atau ia hanyalah medium mara? lalu buku diambilnya. apakah ia menyesali, atau ia sesekali dan sesegeranya tiba lagi keesokan hari? kemudian buku diletakkannya. serupa seorang anak nakal yang kena tampar berkali-kali namun tetap disayangi.

15 Juni 2018 — 09.12

jalanan lengang. esok raya, semua orang menyiapkannya. aku berada di lantai atas sebuah pertokoan di pusat kota. dua buah buku catatan dan sebatang pena hitam yang baru mampu menulis bila dijentikkan. tiada hening. sungai yang tepat berada di sebelah bangunan begitu pandai memecah tenang. sesekali burung dan samarnya kendaraan. beberapa toko tampak nirkegiatan. aroma masakan untuk raya menyelinap menuju ketinggian. berlangsung lama. kupikir hidangannya akan bermacam.

15, 16 Juni 2018 — 06.58

kabar dari selatan, hujan menujuku di utara. aku tak lantas bergegas, minumanku belum dihabiskan. hujan datang, pun dengan malam. lalu malam, semakin malam. masih jam sepuluh jalanan telah bertemu sepi. dingin aku mengelilingi pusat kota. kuhitung, hampir lima putaran. namun tak jua aku temukan jawaban. malam menjadi begitu malam. melewati dua puluh empat jam yang menjadi acuan, satelit memancarkan siaran dua puluh dua kawanan yang saling serang dan diadili seperangkat pertandingan. riaknya kudengar saat lelapku disempatkan. hingga usai, malam menjadi sekumpulan pedagang yang hari itu tak datang. jalanan kembali kutemui, dinginnya melebihi. adzan pun menampilkan diri. pagi ini aku menghabiskan waktu dengan terlelap di atas sebuah sofa berwarna abu yang disiangi matahari. raya sedikit lagi mampu kulewati.

Advertisements

Kediaman Paman: 07.

tahun telah menyematkan diri di paruh ketiga dalam pembagiannya. sebuah konklusi dengan serangkaian nada dan cuaca yang memekakkan telinga, hingga memerah meminta waktu jeda. aku adalah penulis wara, penata laksana. mencatat beberapa laku yang melintas mewangi. selepas kepergian paman, tak banyak tempat yang aku singgahi. semua begitu muram, sedikit memberiku pencahayaan.

tempat itu selalu mampu melelapkanku untuk berdiam diri, mempersilakan hening menggerayangi seisiku. tempo hari, secara sadar, aku kemudikan kendaraanku menuju kediaman paman. namun rasa cemas menggagalkan upaya itu. membayangkan celoteh bibi yang pasti tiada henti, sepeninggal paman, tentu saja dengan agunan akan ada waktu yang memaksa haru. kau tahu, Kartika sudah lama menetap di ibu kota, sementara Mulyadi menjanjikan kelulusannya tahun depan. sebuah realitas, menelan tenggat setahun menghabiskan omong kosong semalaman, sendirian. nahas.

sebetulnya ada sebuah tempat yang mampu memenuhiku dalam menuliskan catatan. besok aku ceritakan sehabis menyimak kawanku berpanjang kalam di selasar swasta.

Noktah.

sudah masuk waktu bergegas bocah menuju sekolah. matahari sedang baik, ia menyilaukan tembok kamarku. berpaling aku dari sinar lampu. menenggak minuman sisa semalam, agar mampu kepalkan tangan.

ah, hari ini kudengar cukup dinantikan. hari besar bagi mereka yang menghamba pada kekayaan. dua puluh lima ku menetap merebah pada langit, apa yang ditawarkan laut membuatku muram. di balik pesona, kepintaran merendahkan martabat atas nama singgasana. ia paham, empunya telah menganggapnya sebagai Tuhan.

aku memahami inteligensi; sekolah tinggi-tinggi tak ada relevansinya dengan kemampuan bersikap manusiawi.

Kontekstual.

menidurkan mara di lantai teratas dalam sebuah gedung yang mampu memecah angin menghirup lapisan terluar tubuhku. tanpa sebentuk hangat yang kupercaya, ia mampu meretas menjadikanku kudapan yang takkan dihabiskan. menyisakanku berupa sebentuk rasa yang menyakitkan. meminta ampun aku pada fase terhebat ini. sementara ia masih saja marah kepadaku yang kebal bahasa.

aku dan pola ruang yang menampilkan rona dalam beragam rupa, dalam paruh waktu, tanpa sempat menikmati hening sebagai momentum berkontemplasi. apabila mata lupa terpejam, maka biarkan siang menjadi kelelapan yang mengenyangkan.

Opium.

mengingat setiap detailnya. lalu semarah-marahnya. sebentuk samudera yang menantang dan menyapa di satu dan suaka. aku membiru mendengarkan isi kepala yang meraung dan binasa. kau tau rasanya gila? mari sini hampiri aku dan nada-nada sendu yang tak sengaja terekam dalam seperangkat alat komunikasi yang olehnya kita mampu bercakap dan tertawa. menghubungi mereka-mereka yang kita percaya untuk tetap terhubung dan sejenak merasa biasa saja.

malam itu aku kembali ke ruangku. visualkan dalam pikirmu; lantai atas, ruang kosong, empat buah ventilasi berbentuk persegi, dan kenangan yang menciptakan loncatan pikir sesegeranya tanpa ampun yang hanya mampu membuat tangisku tak terelakkan dan mataku memerah dengan perasaan haru memanipulasi kehadiran sosok yang terkasihi ada di sisi sebelahku. aku jelas mengingatnya. mereka yang membuatku kesal karena selalu merasa mampu memperdaya nalarku padahal tak semudah itu. pikirku lebih jauh dari kiraan mereka, menembus bagian terdalam yang bahkan aku sendiri tak pernah mempersilakan apa pun ke dalamnya.

aku ingin katakan, bahwa pikiranku melebihi kapasitasku sebagai manusia dengan kesehatan jiwa yang dapat dikatakan aman. dan setiap kebohongan yang kudengar, akan selalu mampu kuurai menjadi sebuah jawaban yang menenangkan.

Non-Kooperatif.

sepersekian detik menujumu. lorong-lorong berhantu menguji tanpa tahu bahwa nyaliku tak sebanding dengan kapasitasku sebagai penantang. aku bermulut besar untuk menutupi kecilnya kesempatan bersandar. aku disesaki ratusan pil yang meminta masuk melalui mulut, hidung, bahkan telingaku bila memungkinkan.

aku dan sebentuk persegi yang tak simetrik dengan deretan tragedi sinematik. mengambil alih kemudi pun tak berdaya. ia dihantam segerombol perompak yang mengaku menguasai tujuh puluh tiga koma empat persen saham dari perusahaan bernama serebrum. terisolir di tanah yang bersertifikasi atas nama yang sama dengan nama yang tertera di kartu tanda penduduk milik pribadi, layaknya petani yang tak punya satu pun kemenangan melawan sepasukan tentara dan korporasi bergaya repetisi dalam setiap diskusi. ia melawan hingga nanti saatnya tiba dilarikan ke klinik terdekat tanpa kendaraan angkut, hanya mampu melawan setiap kesakitan untuk terus berjalan menujunya.

malam ini hujan turun. dan kau tahu itu.

Elak.

img_5047

berlaku yang tak sepenuhnya kau tahu. mengerang kesakitan. pagi hari dengan tak menyempatkan diri berkontemplasi. membenci cuaca hari ini dengan mengutuk saturasi.

menulis adalah hal yang kupelajari setelah bicara dan membaca. dan ia menjadi yang paling kupercaya dan bebas berkelana. dan melangkah sejauh ini, selama ini, seperti upaya membelot dari kesepakatan tak tertulis antara aku dan bapakku. suara sumbang bukan hanya dari mereka yang mengaku mengenalku, namun juga mereka yang namanya tercantum dalam kartu. siapa yang tahu pasti jalan yang dibukakan oleh Tuhanmu?

mengatur posisi sedemikian rupa tanpa berancang segalanya, jauh sebelumnya. sementara memoar melupa. aku butuh kain hangat yang tebal agar tubuhku becus berdiskusi. nanar bila memaksa terus seorang diri. terlampau sunyi.